Deretan bukit hijau menyambut ketika pramugari Trans Nusa mengatakan bahwa pesawat akan segera mendarat di Ende. Aku melongok ke jendela, melihat bukit- bukit kecil yang berselimut kabut. Flores, sebuah pulau di Nusa Tenggara Timur yg dari dulu ingin kukunjungi. Beruntung aku dapat kerjaan di Soe, sebuah kota kecil di Pulau Timor, yg dapat ditempuh selama 2,5 jam dari Kupang. Tiket Kupang-Ende kubeli 2 hari menjelang keberangkatan karena sebelumnya aku bingung mau menghabiskan malam tahun baru dimana. Akhirnya setelah searching di internet kuputuskan untuk bertahun baru di Kelimutu.
Salah satu flora di Kelimutu
Pukul 13.50 Wita pesawatpun mendarat dengan mulus di bandara Frans Seda Ende. Waktu tempuh Kupang-Ende kurang lebih 50 menit. Keluar dari bandara, banyak orang yg menghampiriku, mulai menawarkan jasa ojek sampai paket tur ke Kelimutu. Kuputuskan untuk naik ojek ke terminal timur kota Ende. Cukup membayar Rp. 6000 akupun diantar sampai terminal. Aku diturunkan di warung depan terminal. Tukang ojek yg bernama pak Herman itu memberitahu supaya aku menunggu bis disini yang akan mengantarku sampai ke Desa Moni, desa terdekat dengan danau Kelimutu. Beberapa saat kemudian aku dihampiri seorang pria. Dia seorang tukang ojek yg biasa mangkal di depan terminal. Namanya Charles. Kami ngobrol beberapa saat. Dia menawarkan untuk mengantarku ke tempat-tempat wisata di Ende setelah aku balik dari Kelimutu. Akupun setuju. Akhirnya kamipun bertukar nomer hp dan aku berjanji akan menghubunginya setelah balik dari Kelimutu.
Danau Kelimutu
Bus yang kutunggu akhirnya datang juga. Akupun segera naik ke kursi paling depan di sebelah sopir yg kebetulan kosong. Sungguh beruntung, karena dengan begitu aku bisa memandangi pemandangan sebelah kiri kanan jalan dengan leluasa. Pemandangan di sepanjang jalan dari Ende ke desa Moni sungguh indah. Jalan berkelok-kelok dengan tebing-tebing tinggi di sisi kanan jalan, lembah-lembah hijau dengan sungai yang jernih, juga deretan pohon kemiri dengan pucuk daunnya yg berwarna keputihan, sungguh pemandangan yang eksotis dan memanjakan mata.Mirip dalam film Avatar, cuma tebing dan bukitnya tidak melayang, hahaha.... Hujan turun menemani walaupun tidak begitu deras, karena kebetulan saat ini adalah musim hujan.
Aku sempat tertidur beberapa saat. Aku terbangun ketika kenek menepuk bahuku memberitahu bahwa sudah sampai di desa Moni. Kuambil dompet dan bertanya berapa ongkosnya pada sang kenek. Rp 25.000 harga yg cukup pantas untuk perjalanan selama 2,5 jam dari Ende. Aku diturunkan di depan sebuah warung makan kecil yang ada bungalow di belakangnya. Aku berjalan ke arah bungalow, kutemui seorang pria paruh baya yang sedang mengelap motornya. Ternyata dia adalah pemilik bungalow sekaligus pemilik warung kecil di depan. Pak John namanya. Dia memberi harga 200 ribu, setelah kutawar karena aku seorang diri diapun setuju dengan harga 150 ribu semalam.
Bungalow dengan lantai kayu berdinding kayu itu benar- benar nyaman dan bersih. Ada dua tempat tidur di dalamnya. Satu tempat tidur berukuran besar ada di dalam kamar lengkap dengan kelambu. Dan satu tempat tidur ada diruang tamu dengan ukuran yang lebih kecil. Kutaruh ranselku di sofa bambu dan langsung rebahan di tempat tidur di ruang tamu. Setelah istirahat beberapa saat, karena merasa lapar akupun langsung menuju ke warung makan di depan. Kupesan nasi goreng untuk mengisi perutku malam ini. Aku bertanya kepada pak John akses untuk menuju ke danau Kelimutu besok pagi. Diapun menawarkan sepeda motornya seharga 75.000 sehari untuk disewa. Karena aku ga mau ribet, akupun menyetujui tawarannya. Pak John berjanji akan membangunkan aku jam 3 pagi.
Bus ke Moni
Sesudah makan aku kembali ke bungalow untuk mandi. Setelah itu akupun rebahan di tempat tidur sambil berinternet ria. Suasana desa Moni begitu sejuk dan nyaman. Samar-samar kudengar gemercik air sungai di bawah sana. Mmmm begitu menyenangkan tinggal disini. Tak satupun kudengar suara petasan. Aku heran kenapa tidak ada orang yg menyalakan petasan atau kembang api disini. Padahal di tempat lain tentunya sudah ramai dari sore harinya. Aku lalu keluar dari bungalow untuk jalan- jalan di sekitar bungalow. Jalanan begitu sepi tak satupun mobil atau motor yang lewat. Kulihat seorang bapak tua sedang duduk di sebuah poskamling. Aku ikut duduk di poskamling dan berbasa-basi dengannya. Akupun bertanya mengapa kampung ini begitu sepi padahal malam tahun baru. Ternyata hampir semua warga disini yg sebagian besar nasrani sedang di gereja untuk berdoa. Petasan dan kembang api baru akan dibakar kalo sudah mendekati jam 12 malam. Pantesan jam segini masih sepi banget.
Setelah ngobrol sebentar akupun pamit untuk kembali ke bungalow. Jam sudah menunjukkan jam 9 malam. Dinginnya malam di desa Moni membuatku cepat-cepat menarik selimut untuk segera tidur. Suara musik dangdut yg cukup keras dan suara ledakan petasan dan kembang api yg bersahutan membangunkan aku malam itu. Kuraih hp dan kulihat jam baru menunjukkan pukul 11 malam. Kuputar musik dan kupasang headset di telingaku dan mencoba untuk kembali tidur.
Bungalow tempatku menginap
Sebentar sekali rasanya aku tidur ketika suara pintu digedor- gedor dari luar membuatku terbangun kembali. Ternyata pak John menepati janjinya untuk membangunkanku dini hari ini. Dengan mata yg masih terkantuk-kantuk kubuka pintu dan kulihat pak John berdiri di depan pintu. Dia langsung menyerahkan kunci motor. Akupun langsung menerimanya sambil tak lupa mengucapkan terimakasih. Bergegas aku langsung ke kamar mandi untuk cuci muka. Dinginnya air membuatku mataku langsung melek. Sudah hampir jam 3.30 pagi.
Kupakai jaket dan syal untuk melawan dinginnya udara pagi ini. Pak John memberitahu kalo motornya sudah dipanasin dan diisi bensin. Aku langsung menstarter motor mio itu untuk menuju danau Kelimutu. Tebalnya kabut membuat jarak pandang menjadi terbatas. Sekitar 20 menit kemudian akupun sampai di pintu gerbang Taman Nasional Kelimutu. Sesudah membayar tiket masuk 5000 rupiah aku kembali melanjutkan perjalanan. Sampai di pelataran parkir jam sudah menunjukan pukul 4 pagi. Kulihat beberapa turis asing dan lokal sudah lebih dulu sampai. Kuparkir motor dan langsung berjalan ke tangga yg menuju ke danau. Di tengah perjalanan kujumpai seorang ibu-ibu setengah tua berjalan pelan membawa barang dagangan yg akan dijajakannya di puncak nanti. Kami sempat ngobrol sedikit sambil bercanda. Lucunya ibu itu tidak mau berjalan di tangga, tapi dia berjalan di pinggir tangga. Ketika kutanya mengapa dia berjalan disana padahal sudah dibuatkan tangga, dia mengatakan kalo tidak biasa berjalan di tangga, lebih enak di jalan setapak katanya. Hahaha.. ada ada saja. Tapi aku salut dengan perjuangannya dalam bekerja mencari nafkah dan berjanji dalam hati akan membeli dagangannya di puncak nanti sambil menikmati sunrise.
Bersambung...
hallo, mau tanya, nama bungalownya apa ya?
BalasHapussori baru bales, lupa nama bungalownya mbak.. heheh
Hapus