Jumat, 05 Desember 2014

Mengunjungi Kampung Bena ( Ngebolang Ke Flores Part 5 ) End of Story

Dering hp membangunkanku pagi itu. Ternyata Charles yang menelpon dari lobby. Sudah hampir jam 8 pagi rupanya. Udara dingin di Bajawa memang membuatku pengen tidur terus. Bergegas aku ke kamar mandi. Mandi dengan air hangat untuk mengusir dingin yang menggigit.

Kutemui Charles yang sudah menungguku dari tadi di lobby. Setelah menyelesaikan pembayaran kami pun langsung cabut ke Kampung Bena. Cuaca mendung dan jalanan berkabut. Jalan menuju kampung Bena sudah bagus dan beraspal walaupun masih ada lobang sana sini tapi tidak begitu mengganggu. Kami melewati kebun kopi dan hutan bambu. Bambu disini membuatku takjub, batangnya besar sekali, sebesar paha orang dewasa. Tanahnya subur sekali sepertinya.


Memasuki sebuah perkampungan gunung Inerie tampak berdiri dengan anggunnya. Bentuknya kerucut banget membuatku ingin menginjakkan kaki di puncaknya. Sayangnya ini adalah hari terakhirku di Flores karena pesawatku take off jam 3 sore. Menurut Charles banyak orang di Bajawa  yg bisa diminta bantuan untuk menjadi guide bila ada wisatawan yang ingin mendaki ke puncak Inerie. Sebuah penawaran yang menarik, sayangnya aku tidak cukup waktu. Cuaca disini cepat sekali berubah. Pagi yang cukup cerah tadi berubah jadi mendung saat kami mulai memasuki perbukitan.

Kami berhenti di sebuah tempat yang cukup tinggi. Sepertinya ini adalah tempat singgah atau sejenis gardu pandang. Sebuah patung ayam besar berdiri kokoh menghadap ke lembah. Konon di malam-malam tertentu patung ayam ini bisa berkokok. Warga kampung di lembah sering mendengar kokokannya. Suaranya pun lain tidak seperti kokokan ayam hutan pada umumnya.





 Pemandangan dari sini memang  indah. Kampung Bena juga sudah terlihat dari sini walaupun cuma sejari kuku besarnya, tampak nangkring di lereng gunung Inerie yang tampak anggun berselimut awan di puncaknya. Setelah puas mengambil foto kami melanjutkan perjalanan yang menurut Charles tinggal 10 menit lagi.

Pukul 9 pagi kamipun sampai di Kampung Bena. Suasana masih sepi. Kuisi buku tamu dan membayar iuran seikhlasnya. Kuperhatikan nama-nama tamu yang datang hampir semuanya orang asing! Dan semuanya menulis komen yang bagus terhadap kampung ini. Karena aku ga tahu harus menulis apa, kutulis aja "amazing!!!" Walaupun aku belum tahu di dalam seperti apa, hahahaha...



Memasuki kampung seorang anak kecil menyapa kami dengan ramah. "Selamat pagi" sapanya sambil tersenyum malu-malu. Aku membalas sapaannya dan mengajaknya foto bareng. Rupanya sedang ada rapat. Charles bertanya pada seorang mama yang sedang duduk makan sirih pinang dengan bahasa flores. Menurut mama tersebut pagi ini adalah rapat tahunan koperasi yang memang diadakan setiap awal tahun.






Semakin ke dalam, kulihat beberapa sisa peninggalan megalitikum seperti menhir, dolmen dan kuburan para leluhur. Rasanya seperti terlempar ke masa lalu. Di tiap rumah terlihat banyak tanduk kerbau dan gigi babi. Jumlahnya mencapai puluhan, yang menandakan berapa jumlah kerbau atau babi yang di bunuh saat rumah tersebut di bangun. Kalau tanduk kerbaunya 10 berarti segitulah jumlah kerbau yang dihabiskan selama pembuatan rumah itu. Luas biasa deh pokoknya





Sampai di ujung perkampungan yang berada di puncak bukit. Terdapat sebuah bangunan kecil mirip goa yang didalamnya terdapat patung bunda Maria. Charles mengajakku berjalan ke belakang dan wow... pemandangan dari sini luar biasa indah!!!  Aku langsung duduk di ujung tebing batu, memandangi lembah hijau yang membentang dengan punggungan gunung Inerie di sebelah kanannya. Berat rasanya meninggalkan tempat seindah ini. Seandainya pesawatku besok siang mungkin aku akan menginap disini semalam.



Kami kembali menuruni perkampungan. Kulihat seorang ibu sedang menenun. Kami ngobrol sebentar sambil bertanya berapa harga kain tenunannya. Kuputuskan membeli 2 buah syal seharga 50 ribu perbuahnya.


Karena hari semakin siang, kami pun langsung cabut menuju Ende. Seperti kemarin kami pun terpaksa harus berhenti beberapa kali untuk berteduh karena hujan semakin lebat. Untunglah sekitar jam 2 kami sudah sampai di Ende. Charles mengantarku sampai parkiran bandara. Kuberikan sejumlah uang sebagai ucapan terimakasih karena telah menemaniku menjelajahi Flores dan berjanji akan menghubunginya kalau aku kembali ke Flores. Ah Flores, keindahan alam dan ramahnya masyarakatmu. Selamat tinggal Flores, ada sepenggal rindu yang tertinggal disini...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar