Minggu, 07 Desember 2014

Ke Bromo ( Lagi )


Mark,  bule Jerman teman seperjalanan yang kutemui di Sempol ketika turun dari kawah Ijen memilih menginap  di Probolinggo sebelum ke Bromo. Sudah hampir jam 6 petang, tentu saja sudah tidak ada Elf yang ke Bromo. Beberapa tukang ojek menawarkan jasa ojeknya kepadaku. Setelah tawar menawar yang cukup alot, akhirnya mentok di harga 75 ribu. Tapi ngga apa-apalah, yang penting aku ga tidur di Probolinggo malam ini.


Gerimis turun ketika motor yang kutumpangi  memasuki  Cemoro Lawang. Setelah turun dari motor dan membayar ongkos ojek aku langsung berlari ke sebuah warung untuk berteduh sekalian memesan kopi dan mie rebus. Seorang bapak di warung menawari aku untuk menginap di rumahnya. 
"Berapa semalam pak? " tanyaku.
"150 ribu aja mas, saya kasih satu rumah, dengan dua kamar empat tempat tidur" jawabnya.
" Lagi sepi soalnya, kalau akhir pekan atau musim liburan biasanya saya kasih harga 700 ribu semalam" lanjutnya.
Aku cuma sendirian, ngapain juga tempat tidur banyak. Aku tertawa dalam hati. 
" Oke deh pak saya mau " jawabku. Males juga kalau harus nyari penginapan lagi malam-malam begini.



Selesai makan, pak Andik, nama bapak tersebut, langsung mengajakku ke rumah yang dimaksud. Sebuah rumah dengan 2 kamar tidur ukuran 2 x 2. Dua buah tempat tidur ada di ruang tamu lengkap dengan selimut yang super tebal. Sebuah televisi 14" dan satu set sofa melengkapi ruang tamu sederhana itu. Dapur dan kamar mandi ada di bagian belakang rumah. Rumah ini cocok disewa untuk sekeluarga yang ingin berwisata di Bromo, bukan buat solo backpacker sepertiku. Harga 700 ribu masih pantaslah kalau buat satu keluarga dengan 4 anak. Sementara pak Andik dan keluarganya tinggal di rumah sebelah.




Bangun jam 7 pagi, aku berjalan-jalan menikmati pagi di kebun kol dan bawang di belakang rumah. Aku kembali lagi ke rumah, tidur-tiduran di sofa sambil nonton tv. Jam 9 pagi selesai mandi aku berjalan ke arah hotel Cemoro Indah untuk menikmati pemandangan gunung Bromo dari sini.



Tiba-tiba dari arah bawah sebelah kanan tempatku berdiri muncul seseorang sambil menuntun kuda. Wah ternyata ada jalur khusus tersembunyi rupanya buat ke Bromo. Lumayanlah dari pada harus bayar tiket masuk yang harganya naik gila-gilaan itu, hehehe. Segera aku berjalan ke arah jalur tersebut, menuruni tebing. Cuma harus hati-hati melangkah karena kotoran kuda berserakan dimana-mana. 





Aku berjalan terus ke arah Pura Luhur Poten. Cuaca sedikit mendung jadi panas terik matahari tidak begitu terasa. Beberapa orang menawariku untuk naik kuda tapi kutolak dengan halus. Tidak banyak pedagang edelweiss seperti 2 tahun lalu. Jam 11 siang aku sudah sampai di pinggir kawah Bromo. Beberapa turis asing tampak sibuk memotret ke arah kawah. Kuarahkan pandangan ke arah gunung Batok. Tiba-tiba kulihat bendera Merah Putih berkibar di puncaknya. Ternyata ada juga yang mendaki gunung itu, pikirku. 




Hasrat mendakiku pun bergelora. Kuhampiri  seorang penjual edelweiss dan minuman yang sedang duduk di dekat tangga. 
" Pak, saya lihat ada bendera di puncak Batok, memangnya ada yang mendaki kesana ya " tanyaku.
" Ada mas, cuma ga begitu sering. Dua hari yang lalu saya baru antar turis dari Jerman naik kesana" jawabnya.
"Kalau mas mau naik, saya bisa antar" sambungnya. 
"Naiknya berapa jam dan jalurnya dari mana?" tanyaku lagi.
"Sebentar kok, ngga sampai sejam, itupun nyantai. Naiknya dari belakang toilet tuh" jawabnya sambil menunjuk toilet yang berada di kaki gunung Bromo. 
"Ongkos antarnya berapa pak" tanyaku lagi. 
"150 ribu mas, kalau untuk orang asing saya biasanya minta 300 ribu. Nanti saya jemput di penginapan, kita berangkat jam 4 pagi" jawabnya.
"Oke deh pak, deal ya" akupun menyetujuinya. Kami lalu bertukar nomor hp. Menarik juga, daripada menikmati sunrise dari Penanjakan yang sudah terlalu mainstream, melihat sunrise dari puncak Batok tentu merupakan tantangan tersendiri.




Kami pun ngobrol ngalor ngidul beberapa saat, sambil menikmati keindahan kawah Bromo. Berbeda dengan 2 tahun lalu, sekarang sudah ada pagar pembatas di pinggir kawah yang tentu saja menambah rasa aman para wisatawan. Karena hari mulai semakin panas, dan perut yang semakin lapar, akupun berpamitan pada si bapak untuk turun kembali ke penginapan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar