Pukul 1 siang, Charles memboncengku dengan motornya meninggalkan kota Ende. Sekitar 1 jam berkendara kami berhenti sejenak di pantai Pringgajawa. Pantai yang disisinya banyak batu-batuan berwarna hijau. Sebenarnya pantai ini lumayan indah, cuma agak kotor. Sampah ada dimana-mana. Di beberapa tempat tampak gundukan batu hijau yg dikumpulkan warga sekitar untuk dijual ke pengepul.
Pantai Pringgajawa dengan latar belakang pulau Ende
Pantai Pringgajawa, tampak kotor oleh sampah dedaunan
Jalan dalam perbaikan, dengan tebing batu hijau yg indah
View sepanjang jalan menuju Mangaruda
Kolam Air panas Mangaruda
Suasana mulai remang-remang, Charles mengajakku melanjutkan perjalanan ke Bajawa. Padahal aku masih ingin berendam berlama-lama disini. Gerimis turun ketika kami meninggalkan Mangaruda. Kami berhenti beberapa kali karena hujan agak deras dan kami tidak membawa jas hujan. Diperjalan kami melewati sebuah bukit yang ditambang untuk diambil pasirnya. Wow.. menakjubkan sekali, bukit sebesar itu isinya pasir melulu. Charles bilang bahwa pasir di bukit ini adalah yang terbaik di Flores.
Bukit Pasir
Jam setengah tujuh malam kami sampai di Bajawa. Udara dingin mulai terasa. Aku mengajak Charles mencari warung makan untuk mengisi perut yang mulai keroncongan. Setelah makan Charles mengantarku mencari hotel untuk beristirahat. Sebuah hotel di pinggir kota dengan view gunung Inerie menjadi pilihanku untuk menginap malam ini. Kamar termurah 200 ribu semalam, double bed dengan air panas. Charles sendiri mengaku akan menginap di rumah saudaranya walaupun aku sudah menawarinya untuk tidur di hotel saja. Aku iyakan saja keinginannya dan dia berjanji akan menjemputku jam 8 pagi dan langsung menuju kampung Bena.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar