Kamis, 04 Desember 2014

Air Panas Mangaruda ( Ngebolang Ke Flores Part 4)


Pukul 1 siang, Charles memboncengku dengan motornya meninggalkan kota Ende. Sekitar 1 jam berkendara kami berhenti sejenak di pantai Pringgajawa. Pantai yang disisinya banyak batu-batuan berwarna hijau. Sebenarnya pantai ini lumayan indah, cuma agak kotor. Sampah ada dimana-mana. Di beberapa tempat tampak gundukan batu hijau yg dikumpulkan warga sekitar untuk dijual ke pengepul.


 Pantai Pringgajawa dengan latar belakang pulau Ende

 Pantai Pringgajawa, tampak kotor oleh sampah dedaunan

Jalan dalam perbaikan, dengan tebing batu hijau yg indah

Kami melanjutkan  perjalanan kembali. Jalan Ende - Bajawa masih banyak dalam perbaikan. Jalannya berliku-liku naik turun perbukitan dengan pemandangan yg memanjakan mata. Hmmm.. Flores memang benar-benar indah. Charles mengajakku ke pemandian air panas Mangaruda. Sebenarnya aku rada malas karena di Bali juga banyak pemandian air panas, tapi dia meyakinkan aku kalau yang ini beda. Pokoknya tidak menyesal deh kalau sudah kesana. Ya sudah,  karena aku cuma boncengan jadinya aku nurut aja.
View sepanjang jalan menuju Mangaruda

Jam 5 sore kami sampai di pemandian air panas tersebut. Motor lumayan ramai di parkiran. Mungkin karena masih masa liburan akhir tahun. Setelah memarkir motor kami langsung menuju loket untu membeli tiket masuk. Cuma Rp.1000,- per orang. Murah sekali. Tampaknya pemandian ini kurang begitu terawat. Charles langsung mengajakku ke kolam di bawah pohon yang merupakan sumber mata air panas utama. Airnya sangat jernih sehingga aku bisa melihat gelembung - gelembung air yang keluar dari bebatuan di dasar kolam. Ternyata Charles ga bohong, mata air panas ini memang beda.


Kolam Air panas Mangaruda

Setelah berganti dengan celana pendek di toilet aku kembali ke kolam. Kucelupkan kakiku ke kolam. Woww.. panas banget!!! Kutarik kembali kakiku. Ternyata kita ga bisa langsung main nyebur ke kolam, perlu penyesuaian beberapa saat dengan suhu air di kolam. Kubasuh tangan dan kakiku, sedikit demi sedikit barulah aku mulai berendam di kolam. Sama sekali tidak kucium bau belerang seperti di pemandian air panas pada umumnya. Segar sekali rasanya, setelah perjalanan jauh dari Ende berendam air panas disini.

Suasana mulai remang-remang, Charles mengajakku melanjutkan perjalanan ke Bajawa. Padahal aku masih ingin berendam berlama-lama disini.  Gerimis turun ketika kami meninggalkan Mangaruda. Kami berhenti beberapa kali karena hujan agak deras dan kami tidak membawa jas hujan. Diperjalan kami melewati sebuah bukit yang ditambang untuk diambil pasirnya. Wow.. menakjubkan sekali, bukit sebesar itu isinya pasir melulu. Charles bilang bahwa pasir di bukit ini adalah yang terbaik di Flores.

Bukit Pasir
 Jam setengah tujuh malam kami sampai di Bajawa. Udara dingin mulai terasa. Aku mengajak Charles mencari warung makan untuk mengisi perut yang mulai keroncongan. Setelah makan Charles mengantarku mencari hotel untuk beristirahat. Sebuah hotel di pinggir kota dengan view gunung Inerie menjadi pilihanku untuk menginap malam ini. Kamar termurah 200 ribu semalam, double bed dengan air panas. Charles sendiri mengaku akan menginap di rumah saudaranya walaupun aku sudah menawarinya untuk tidur di hotel saja. Aku iyakan saja keinginannya dan dia berjanji akan menjemputku jam 8 pagi dan langsung menuju kampung Bena.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar