Sabtu, 06 Desember 2014

Air Terjun Balawan


Setelah turun dari kawah Ijen aku berencana ke Bromo hari ini. Walaupun sudah pernah kesana 2 tahun lalu, tapi keindahan tempat itu membuatku ingin mengunjunginya kembali. Kutemui pak Im di dapur untuk berpamitan. Pak Im malah menyuruhku menunggu sebentar karena dia juga mau turun ke Balawan menemui salah seorang saudaranya. Dia menyarankan untuk menginap saja di Balawan, karena disana ada air terjun dan pemandian air panas. Menarik juga, pikirku. Setelah berpegal ria naik kawah Ijen, mandi air panas tentu tentu hal yang sangat menyenangkan. Lagi pula aku tidak dikejar waktu, jadi kuputuskan untuk berleha-leha satu hari di Balawan.

Kolam renang di depan kamar homestay

Jam 11 siang pak Im memboncengku dengan motor GL Pro-nya menuju Balawan. Sampai di Balawan, pak Im menurunkan aku di depan Homestay Catimor. Kuselipkan selembar uang 50 ribuan di saku jaketnya walaupun sebelumnya dia sudah menolak. Ngga enak rasanya udah dikasih tumpangan tidur dan ojek gratis.

Bunga bermekaran di halaman homestay

Aku langsung menuju lobby untuk memesan kamar. Harga termurah 150 ribu permalam. Langsung aku iyakan. Sebuah kolam renang ada di depan kamarku. Di sebelahnya juga ada kolam kecil air panas alami. Setelah mandi aku tidur siang sebentar karena masih capek.

Sungai kecil sebelum air terjun
Jam 2 siang aku bangun  tidur. Aku bertanya pada mbak resepsionis homestay, tentang air terjun Balawan. Dengan ramah mbaknya menjelaskan tentang air terjun yang dimaksud. Aku berjalan melewati perumahan karyawan PT PTP dan sebuah kolam permandian air panas. Di Balawan ini, banyak sekali sumber air panasnya. Mulai dari di tebing-tebing, parit kecil maupun yang muncul dari bawah pohon. Setelah berjalan sekitar 20 menit melewati sebuah jembatan kecil dan beberapa buah anak tangga, akhirnya aku sampai di air terjun.


Air Terjun Balawan

Debit airnya begitu besar. Cuma seorang diri di tempat sepi ditemani gemuruh air terjun membuatku agak takut. Apalagi suasana agak gelap karena rimbunnya pepohonan. Entah berapa ketinggiannya, karena airnya langsung jatuh ke jurang sempit yang entah dimana tembusnya. Sebuah sumber air panas berada di bawah pohon besar yang sudah dipasangi pipa kecil sehingga membentuk sebuah pancuran kecil. Aku melongok ke atas, kali aja ada mbak kunti lagi nangkring di dahan pohon memperhatikan aku yang lagi sendirian di bawah, hehe..






Bunga-bunga sedang bermekaran dengan indahnya

Tidak sampai 10 menit aku langsung cabut dari tempat menyeramkan itu. Aku mampir di pemandian air panas. Tampak 2 orang wisatawan asing tengah asyik berendam. Dengan membayar Rp. 5000 akupun berendam sepuasnya sampai menjelang petang ditemani sepiring mie goreng.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar