Bau belerang mulai tercium ketika aku mulai mendekati tugu yg ada di
puncak Kelimutu. Waktu menunjukkan pukul 5.30 pagi. Ngga percaya rasanya,
sekarang aku sudah ada di depan danau yang pada waktu kecil dulu cuma bisa
kulihat di lembaran uang 5000an. Beberapa turis asing tampak sudah duluan
sampai disana. Beberapa tampak asyik memotret danau. Dua orang pedagang makanan
kecil juga sudah mulai menjajakan dagangannya, salah satunya ibu yang aku temui
di perjalanan tadi. Sambil menikmati view kupesan segelas Popmie buat
mengganjal perutku.
Puncak Kelimutu dari kejauhan
Jalan setapak menuju danau
Tempat beristirahat
Jalan setapak menuju danau
Seorang turis bule perempuan setengah baya menyapaku dengan
ramah. ‘’ Selamat pagi” sapanya sambil tersenyum. Ah, ternyata dia sudah lancar
banget berbahasa Indonesia. Dia mengaku berasal dari Jerman. Dia datang bersama
suaminya yang tampak sibuk memotret sana sini. Ternyata dia sudah tinggal di
Bali selama 8 tahun, tepatnya di Tejakula, Buleleng. Kamipun ngobrol beberapa
saat sambil sesekali aku memotret ke arah danau. Pagi ini kami kurang
beruntung. Sunrise yg kami nantikan tidak bisa muncul karena cuaca mendung dan
berkabut.
Danau Kelimutu atau Tiwu Kelimutu terdiri dari tiga danau
dengan warna yang berbeda-beda. Berada di ketinggian 1639 mdpl. Danau yang
berwarna biru atau “ Tiwu Nuwa Muwi Koo Fai
“ ( susah banget nyebutnya) menurut kepercayaan masyarakat setempat adalah
tempat berkumpulnya jiwa/arwah muda-mudi. Di sebelahnya danau dengan warna
hijau lumut ( waktu aku datang warnanya begitu ), kalau dalam gambar uang
5000an dulu sih warnanya merah atau “
Tiwu Ata Polo “ merupakan tempat berkumpulnya arwah orang-orang yang pada
masa hidupnya melakukan kejahatan/tenung/santet. Dan satu lagi yang letaknya
terpisah di sebelah barat danau yang berwarna hitam atau ‘’ Tiwu Ata Mbupu” adalah tempat berkumpulnya arwah orang tua yang
telah meninggal.
Tiwu Ata Mbupu
Tiwu Nuwa Muwi Koo Fai
Tiwu Ata Polo
Narsis dulu sebelum turun
Karena kabut mulai turun dan menghalangi pandangan ke danau
,akupun bergegas turun. Beberapa turis juga ikut menyusulku turun. Padahal
sebenarnya aku masih ingin berlama-lama disana untuk menikmati keindahannya.
Sampai di parkiran aku singgah di warung untuk membeli kopi buat menghangatkan tubuh.
Sesudah itu akupun langsung menstarter motor dan balik ke Moni. Sampai di
bungalow aku langsung mandi dan packing pakaianku dan berencana balik ke Ende
pagi ini. Kutemui pak John di warung buat mengembalikan kunci motor dan bayar
sewa penginapan. Pak John mengatakan kalau aku ngga bisa balik ke Ende pagi
ini, karena saat ini adalah tahun baru dan semua angkutan umum dari Maumere ke
Ende libur. Aku ga langsung mempercayai keterangannya. Kutunggu diwarung sambil
browsing tempat-tempat yang akan kukunjungi selanjutnya. Ternyata memang benar,
ga ada satupun bis dari Maumere yang lewat. Ah sial, berarti aku harus menginap
di Moni satu hari lagi yang artinya pengeluaranpun membengkak.
Air Terjun Moni
Deretan bungalow di desa Moni
Pak John memberitahu kalau ada air terjun dekat sini yang
bisa kukunjungi. Cuma 30 menit katanya. Akupun antusias mendengar
keterangannya. Selesai makan aku langsung berpamitan untuk menuju air terjun
yang dimaksud. Kurang lebih 30 menit jalan kaki akupun sampai di air terjun yang
dimaksud. Tingginya sekitar 10 meter. Beberapa orang yang kelihatannya penduduk
lokal tampak asyik bermain atau sekedar berfoto-foto ria. Gerimis mulai turun,
setelah kurang lebih setengah jam disana aku langsung balik ke penginapan.
Hari
kedua di Moni kuhabiskan dengan tidur sambil browsing di bungalow. Karena dari
siang sampai malam hujan deras mengguyur desa Moni membuatku tidak bisa
kemana-mana. Tapi walaupun begitu aku merasa senang dan betah di Moni.
Ketenangan dan kedamaian disini membuatku ingin kembali kesini suatu hari
nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar