Rabu, 03 Desember 2014

Ngebolang Ke Flores Part 2

Bau belerang mulai tercium  ketika aku mulai mendekati tugu yg ada di puncak Kelimutu. Waktu menunjukkan pukul 5.30 pagi. Ngga percaya rasanya, sekarang aku sudah ada di depan danau yang pada waktu kecil dulu cuma bisa kulihat di lembaran uang 5000an. Beberapa turis asing tampak sudah duluan sampai disana. Beberapa tampak asyik memotret danau. Dua orang pedagang makanan kecil juga sudah mulai menjajakan dagangannya, salah satunya ibu yang aku temui di perjalanan tadi. Sambil menikmati view kupesan segelas Popmie buat mengganjal perutku.
Puncak Kelimutu dari kejauhan

 Jalan setapak menuju danau

 Tempat beristirahat

Jalan setapak menuju danau

Seorang turis bule perempuan setengah baya menyapaku dengan ramah. ‘’ Selamat pagi” sapanya sambil tersenyum. Ah, ternyata dia sudah lancar banget berbahasa Indonesia. Dia mengaku berasal dari Jerman. Dia datang bersama suaminya yang tampak sibuk memotret sana sini. Ternyata dia sudah tinggal di Bali selama 8 tahun, tepatnya di Tejakula, Buleleng. Kamipun ngobrol beberapa saat sambil sesekali aku memotret ke arah danau. Pagi ini kami kurang beruntung. Sunrise yg kami nantikan tidak bisa muncul karena cuaca mendung dan berkabut.

Danau Kelimutu atau Tiwu Kelimutu terdiri dari tiga danau dengan warna yang berbeda-beda. Berada di ketinggian 1639 mdpl. Danau yang berwarna biru atau “ Tiwu Nuwa Muwi Koo Fai “ ( susah banget nyebutnya) menurut kepercayaan masyarakat setempat adalah tempat berkumpulnya jiwa/arwah muda-mudi. Di sebelahnya danau dengan warna hijau lumut ( waktu aku datang warnanya begitu ), kalau dalam gambar uang 5000an dulu sih warnanya merah atau “ Tiwu Ata Polo “ merupakan tempat berkumpulnya arwah orang-orang yang pada masa hidupnya melakukan kejahatan/tenung/santet. Dan satu lagi yang letaknya terpisah di sebelah barat danau yang berwarna hitam atau ‘’ Tiwu Ata Mbupu” adalah tempat berkumpulnya arwah orang tua yang telah meninggal.

 Tiwu Ata Mbupu

  Tiwu Nuwa Muwi Koo Fai

Tiwu Ata Polo

Narsis dulu sebelum turun

Karena kabut mulai turun dan menghalangi pandangan ke danau ,akupun bergegas turun. Beberapa turis juga ikut menyusulku turun. Padahal sebenarnya aku masih ingin berlama-lama disana untuk menikmati keindahannya. Sampai di parkiran aku singgah di warung untuk membeli kopi buat menghangatkan tubuh. Sesudah itu akupun langsung menstarter motor dan balik ke Moni. Sampai di bungalow aku langsung mandi dan packing pakaianku dan berencana balik ke Ende pagi ini. Kutemui pak John di warung buat mengembalikan kunci motor dan bayar sewa penginapan. Pak John mengatakan kalau aku ngga bisa balik ke Ende pagi ini, karena saat ini adalah tahun baru dan semua angkutan umum dari Maumere ke Ende libur. Aku ga langsung mempercayai keterangannya. Kutunggu diwarung sambil browsing tempat-tempat yang akan kukunjungi selanjutnya. Ternyata memang benar, ga ada satupun bis dari Maumere yang lewat. Ah sial, berarti aku harus menginap di Moni satu hari lagi yang artinya pengeluaranpun membengkak.

Air Terjun Moni



Deretan bungalow di desa Moni

Pak John memberitahu kalau ada air terjun dekat sini yang bisa kukunjungi. Cuma 30 menit katanya. Akupun antusias mendengar keterangannya. Selesai makan aku langsung berpamitan untuk menuju air terjun yang dimaksud. Kurang lebih 30 menit jalan kaki akupun sampai di air terjun yang dimaksud. Tingginya sekitar 10 meter. Beberapa orang yang kelihatannya penduduk lokal tampak asyik bermain atau sekedar berfoto-foto ria. Gerimis mulai turun, setelah kurang lebih setengah jam disana aku langsung balik ke penginapan.

Hari kedua di Moni kuhabiskan dengan tidur sambil browsing di bungalow. Karena dari siang sampai malam hujan deras mengguyur desa Moni membuatku tidak bisa kemana-mana. Tapi walaupun begitu aku merasa senang dan betah di Moni. Ketenangan dan kedamaian disini membuatku ingin kembali kesini suatu hari nanti.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar