02 Januari 2013. Ini adalah hari ke 3 aku di Flores. Gerimis turun membasahi jalan. Setelah packing aku langsung menemui pak John buat bayar sewa penginapan. Sambil ngobrol akupun menunggu bus yang lewat dari Maumere yang akan mengantarkan aku sampai di Ende. Sebelumnya aku sudah sms Charles kalau aku turun ke Ende pagi ini.
Berselang tidak beberapa lama, bus yang kunanti akhirnya datang. Aku berpamitan pada pak John dan istrinya dan langsung naik ke bus. Bus penuh sesak sampai beberapa orang duduk di atap bus. Kulihat dua ekor kambing juga ada di atap bus. Hahaha... benar-benar pemandangan langka, yang mungkin cuma bisa kulihat di NTT. Aku duduk di bangku serep dekat pintu masuk sambil menikmati pemandangan di sepanjang jalan.
Kurang lebih 2 jam perjalanan, akhirnya bus sampai di terminal timur kota Ende. Kutelpon Charles begitu turun dari bus. Ternyata dia sedang ngopi di warung depan terminal. Bergegas aku berjalan keluar terminal untuk menemuinya. Kuberitahu dia kalo aku ingin pergi ke air terjun Ae Poro, yang aku tahu setelah kemarin sempat browsing waktu di Bungalow di Moni. Dia mengaku tahu tempatnya. Setelah menghabiskan kopinya, Charles langsung mengajakku ke rumahnya sebentar buat menukar motornya dengan motor adiknya yang lebih bagus karena menurutnya medan menuju air terjun Ae Poro kurang bagus dan terjal.
Setelah mengisi bensin di kios bensin depan rumahnya, kamipun segera meluncur menuju air terjun. Jalanan terus menanjak dan sempit. Beberapa kali aku harus turun dari motor karena tanjakan yang kelewat extreme. Ternyata tidak sesuai dengan keterangan yg kuperoleh dari internet kemarin. Akses ke air terjun ini sangat sulit. Tidak ada plang arah petunjuk ke arah air terjun. Charles pun mengaku sudah lupa jalan setapak menuju air terjun. Beruntung kami bertemu seorang bapak yang tengah mencari rumput. Charles langsung memarkir motornya dan masuk ke arah perkebunan kakao dan cengkeh milik warga. Suara deburan dari air terjun ini yang menjadi panduan kami.
Setelah berjuang susah payah akhirnya sampai juga kami di persawahan kecil yang ditanami sayur kangkung. Dari sini air terjun sudah kelihatan. Kulepas sepatu karena beberapa kali harus melalui parit yg sedang meluber airnya karena sedang musim hujan. Akhirnya sampai juga kami di air terjun Ae Poro. Suasana sepi, cuma ada kami berdua. Air terjun dengan ketinggian sekitar 50 meter ini masih alami. Tampaknya jarang ada orang kesini. Airnya begitu jernih, dingin dan menyegarkan.
Kami tidak berlama-lama disini. Setelah puas bermain air dan foto-foto kami segera naik ke atas. Charles mengajakku ke Bajawa untuk mengunjungi air panas Mangaruda dan Kampung Bena. Menurut Charles jarak tempuh dari Ende ke Bajawa kurang lebih 4 jam. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang ketika kami meninggalkan Ende menuju kota dingin Bajawa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar