Sebagai solo traveler, tentu saja aku bisa mengubah semauku
jadwal yang sudah kususun jauh-jauh hari. Seperti dalam perjalanan kali ini,
aku sudah berencana mengunjungi pantai Koka di Maumere, tapi lagi-lagi
kubatalkan rencana tersebut. Setelah menginap semalam di Maumere, pagi itu aku langsung bertolak ke Ende. Rencanaku ingin sampai di Bajawa sore hari agar bisa
naik gunung Inerie pada dini hari dan tentu saja berendam di air panas
Mengeruda setelah pendakian.
Sebuah longsor yang terjadi di jalan Moni – Ende
menggagalkan rencanaku hari itu. Cukup lama aku menonton excavator membersihkan
bekas longsoran. Berdasarkan keterangan petugas, jalan kemungkinan baru bisa
dilalui setelah jam 6 malam. Ah, bête juga. Dari pada bengong ga jelas begini,
kenapa tidak main ke Kelimutu saja, pikirku tiba-tiba. Cuaca lumayan cerah. Aku
buru-buru mencari ojek. Sempat tawar menawar sebentar, akhirnya tukang ojek
setuju dengan harga Rp.70.000,- PP.
Aku cukup beruntung , sampai di danau Kelimutu cuaca cerah.
Biasanya wisatawan ke Kelimutu pagi hari buat menikmati sunrise. Mungkin karena
sudah sore, aku menjadi satu-satunya pengunjung disana. Inilah yang kucari, aku
jadi lebih khyusuk menikmati salah satu mahakarya sang Pencipta ini, hehe.. Hari
itu warna air danau bagus banget. Danau tempat berkumpulnya arwah orang jahat
berwarna hitam kemerahan. Sedangkan danau tempat berkumpulnya arwah muda
mudi berwarna biru tosca. Indah sekali!!
Sekitar sejam aku menikmati sunyinya Kelimutu, duduk merenung di tebing pinggir
danau ( sebenarnya hal ini dilarang petugas Taman Nasional Kelimutu, karena
berbahaya).
Karena kabut sudah turun, aku bergegas kembali ke parkiran karena tidak
enak sama tukang ojek yang kelamaan menunggu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar