Keinginan untuk mengunjungi Larantuka sebenarnya sudah dari
beberapa tahun lalu saat bekerja di Soe tapi baru sekarang bisa terwujud. Diapit
gunung Ile Mandiri dan Laut Solor, pemandangan kota Larantuka tampak begitu
menawan! Cuaca cukup cerah ketika pesawat Wings Air yang kutumpangi dari Kupang
mendarat di Bandar Udara Gewayantana, Larantuka. Sebuah bandara kecil yang
sangat sederhana. Terminal kedatangannya cukup mungil, mungkin sekitar 3x4 meter
ukurannya. Jangan bayangkan ada troli apalagi conveyor belt. Disini kita
menunggu bagasi yang langsung diberikan oleh petugas kepada penumpang berdasarkan
nomor bagasi kita yang tercantum di tiket pesawat.
Aku langsung keluar bandara begitu menerima bagasiku
disambut para sopir travel dan tukang ojek yang berebutan menawarkan tumpangan.
Tentu saja aku memilih naik ojek untuk penghematan. Aku minta turun di dermaga
penyebrangan ke pulau Adonara. Sore itu aku bermaksud menemui temanku, Putu
Widayana, seorang dokter yang baru dua hari bertugas di Puskesmas Waiwadan,
Adonara Timur. Ongkos menyebrang ke Adonara Rp.5000,- dengan perahu motor dan
lama perjalanan sekitar 10 menit. Sore itu aku, Putu dan 6 orang teman
dokternya jalan-jalan di pantai menikmati sunset berlatar
belakang gunung Ile mandiri.
Cuma semalam di Adonara, paginya aku
kembali ke Larantuka. Sebenarnya banyak tempat menarik di Adonara, seperti
gunung Ile Boleng, Pantai Watotena dan lain-lain, tapi hari itu moodku lagi kurang bagus buat berexplore
ria. Termasuk juga rencana untuk menyebrang ke pulau Lembata kucoret dari list
( belakangan aku menyesali keputusan itu setelah melihat foto-foto keindahan
Lembata di akun Instagram Satya Winnie ). Damn!!!
Di Larantuka aku bertemu om Yoris, salah seorang kenalanku.
Mampir ke rumahnya sebentar buat minum kopi, dia lalu mengantarkan aku
berkeliling kota. Larantuka, sebuah kota kecil dengan penduduk yang sangat
ramah. Ya, orang-orang NTT memang sangat ramah, itulah sebabnya aku jatuh cinta
dengan NTT!! Om Yoris mengantarkan aku ke beberapa pantai di dekat kota, aku
lupa nama pantainya. Yang pasti pantai-pantai disini airnya jernih banget!
Sesudah makan siang, Om Yoris mengantarku ke terminal untuk mencari bus ke
Maumere. Walaupun cuma sehari di Larantuka, tapi aku merasa sangat terkesan
akan kota ini. Kota yang tenang damai. Aku berjanji akan segera kembali kesini,
mengexplore sisi Larantuka yang lain, explore Adonara dan tentu saja Lembata!!
How to get there?
Penerbangan ke Larantuka cuma ada dari Kupang. Jadi buat
traveler yang ingin ke Larantuka ya harus transit di Kupang. Harga tiket
pesawat Kupang-Larantuka mulai Rp.245.000,-. ( bisa cek di tiket.com atau
traveloka.com ) Bisa juga melalui jalan darat dari Maumere naik bus dengan
ongkos Rp. 60.000,- dengan lama perjalanan 3 jam.
kerennnnn kakak nemo...
BalasHapusMakasih kak Ika idolaku....����
HapusJadi kalo sudah ke larantuka, mesti ke lembata yaaa
BalasHapussaya pernah beberapa bulan tinggal dan bekerja di larantuka
BalasHapusmemang kota kecil yang indah dan damai.
saya pernah tinggal di desa Balela jadi orang Nagi.