Pendakian kali ini benar-benar tanpa di
rencanakan. Karena bingung mau kemana untuk mengisi libur Lebaran, 3 hari
menjelang Lebaran iseng-iseng kukontak temanku yang juga hobi mendaki gunung.
Gayung bersambut, diapun menyetujui ajakanku dan mengajak teman-temannya yang
lain yang sehobi. Alhasil 9 orang terkumpul di hari H pendakian.
Setelah tertahan
cukup lama di Besakih karena belum ada guide, jam 3 sore kamipun mulai
pendakian melalui dusun Junggul. Sekedar informasi, mendaki gunung Agung wajib
memakai Guide untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Biaya guide
Rp.500.000/grup. Jalur Junggul merupakan jalur yang baru dibuka dan jarang pendaki yang mau lewat
jalur ini karena medan yang sangat curam dan tanjakan tiada ampun.
Start pendakian
di mulai di sebuah empang, beberapa menit pertama jalur agak datar barulah
kemudian semakin curam bahkan dengan kemiringan lebih dari 70⁰.
Karena jarang dilalui di beberapas tempat jalurnya sudah tertutup rumput-rumput
liar sehingga sulit dikenali. Sangat jarang sekali menemui jalur datar. Jam 10
malam akhirnya kami menemukan bidang datar yang cukup untuk mendirikan 4 tenda.
Kamipun bermalam disini sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak dini harinya.
Jam 4 pagi kami melanjutkan perjalanan
ke puncak melewati jalur yang semakin curam dan berbatu. Hari mulai terang
ketika kau sampai di Kori Agung yang merupakan batas vegetasi sebelum ke puncak
gunung Agung. Kabut tebal turun menyelimuti sehingga pupus sudah harapan untuk
bisa melihat sunrise di gunung ini. Kuputuskan meninggalkan carierku di sini
dan melanjutkan pendakian dengan daypack saja sehingga lebih ringan.
Jam 9 pagi akupun sampai di puncak.
Senang sekali rasanya walaupun kakiku terasa sakit karena memakai sepatu yang
kekecilan. Tak sampai sejam di puncak setelah puas berfoto-foto dan sembahyang
bersama kamipun memutuskan untuk turun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar