Rabu, 29 Juli 2015

Mendaki Gunung Agung via Dusun Junggul



Pendakian kali ini benar-benar tanpa di rencanakan. Karena bingung mau kemana untuk mengisi libur Lebaran, 3 hari menjelang Lebaran iseng-iseng kukontak temanku yang juga hobi mendaki gunung. Gayung bersambut, diapun menyetujui ajakanku dan mengajak teman-temannya yang lain yang sehobi. Alhasil 9 orang terkumpul di hari H pendakian. 


Setelah tertahan cukup lama di Besakih karena belum ada guide, jam 3 sore kamipun mulai pendakian melalui dusun Junggul. Sekedar informasi, mendaki gunung Agung wajib memakai Guide untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Biaya guide Rp.500.000/grup. Jalur Junggul merupakan jalur yang  baru dibuka dan jarang pendaki yang mau lewat jalur ini karena medan yang sangat curam dan tanjakan tiada ampun.





Start pendakian di mulai di sebuah empang, beberapa menit pertama jalur agak datar barulah kemudian semakin curam bahkan dengan kemiringan lebih dari 70⁰. Karena jarang dilalui di beberapas tempat jalurnya sudah tertutup rumput-rumput liar sehingga sulit dikenali. Sangat jarang sekali menemui jalur datar. Jam 10 malam akhirnya kami menemukan bidang datar yang cukup untuk mendirikan 4 tenda. Kamipun bermalam disini sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak dini harinya.



Jam 4 pagi kami melanjutkan perjalanan ke puncak melewati jalur yang semakin curam dan berbatu. Hari mulai terang ketika kau sampai di Kori Agung yang merupakan batas vegetasi sebelum ke puncak gunung Agung. Kabut tebal turun menyelimuti sehingga pupus sudah harapan untuk bisa melihat sunrise di gunung ini. Kuputuskan meninggalkan carierku di sini dan melanjutkan pendakian dengan daypack saja sehingga lebih ringan. 






Jam 9 pagi akupun sampai di puncak. Senang sekali rasanya walaupun kakiku terasa sakit karena memakai sepatu yang kekecilan. Tak sampai sejam di puncak setelah puas berfoto-foto dan sembahyang bersama kamipun memutuskan untuk turun. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar