Aku duduk termangu di Terminal Mena,
Ruteng. Menantikan otocolt yang akan membawaku ke Denge, desa terakhir sebelum
melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke Wae Rebo. Sekitar setengah jam
kemudian mobil yang ditunggu akhirnya masuk terminal. Mobil ke Denge cuma ada 2
kali sehari jam 10 dan 11 siang. Pokoknya paling lambat jam 11 siang mobil
sudah berangkat ke Denge. Otocolt disini adalah mobil truk bak kayu yang sudah
dimodifikasi dengan dipasangkan balok- balok kayu melintang sebagai tempat
duduk. Aku segera beranjak naik,setelah
melemparkan kerilku di bagian depan bak mobil.
Tak lama kemudian mobilpun sudah penuh
sesak. Tak cuma dengan orang, akupun harus berbagi tempat dengan barang-barang
belanjaan penduduk lokal termasuk dengan ayam-ayam!! Keadaan semakin menyiksa
karena sepanjang perjalanan sopir memutar lagu dengan volume yang sangat-sangat
memekakkan telinga. Iya kalau lagu-lagu yang diputar adalah lagu-lagu Top 40
mungkin aku akan sedikit terhibur. Tapi ini, lagu yang diputar adalah lagu-lagu
dangdut gaje yang sangat merusak mood! Oh tidaakkk!!! Pemandangan indah
sepanjang kiri kanan jalan seakan tidak ada artinya bagiku. Benar-benar between heaven and hell!. Belum
lagi pantat yang terasa ngilu karena harus duduk di bangku kayu yang super
keras selama hampir 5 jam!
Jam 3 sore mobil sampai di Denge. Aku
adalah penumpang terakhir di mobil ini. Sopir menurunkan aku tepat di depan
rumah pak Blasius Monta, orang asli Wae Rebo yang menjadi guru SD di Denge. Pak
Blasius menyambutku dengan ramah. Aku memutuskan untuk langsung trekking ke Wae
Rebo sore itu mumpung cuaca cerah. Pak Blasius segera mencarikan aku seorang
guide dari warga local. Jam setengah 4 sore kamipun mulai pendakian menuju Wae
Rebo.
Satu jam pertama jalur lumayan datar.
Setelah menyebrangi dua sungai kami istirahat sebentar. Jalur mulai menanjak
dan licin tapi masih bisa dikompromi. Apalagi buatku yang sudah lumayan sering
naik gunung jadi tak begitu masalah. Jam 7 malam kami sampai di Wae Rebo. Ah…
senangnya, finally I’m here!! Perjalanan menyiksa bagai neraka di otocolt selama 5 jam ditambah trekking
selama 3 jam lebih seakan sirna sudah. Terimakasih Tuhan telah mengabulkan satu
lagi mimpiku!
Info Tambahan:
Kalau tidak ingin naik otocolt dari Ruteng
bisa naik ojek dengan ongkos 200 ribu sekali
jalan atau Sewa motor dengan harga 90 ribu/hari di hotel Rima.
Biaya menginap di Wae Rebo Rp.325.000/malam
termasuk makan 3x, Kalau tidak menginap bayar Rp.200.000 dapat 1x makan ( per 1
Januari 2015 )
Guide Rp.200.000
Jika beramai-ramai bisa sewa mobil dengan harga mulai 600 ribu perhari
Hubungi Om Sony ( manajer Hotel Rima Ruteng
) Hp. 081339419696
Otocolt dari Denge ke Ruteng cuma ada jam
3-4 pagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar