Rabu, 29 Juli 2015

(Between Heaven And Hell) Road To Wae Rebo



Aku duduk termangu di Terminal Mena, Ruteng. Menantikan otocolt yang akan membawaku ke Denge, desa terakhir sebelum melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke Wae Rebo. Sekitar setengah jam kemudian mobil yang ditunggu akhirnya masuk terminal. Mobil ke Denge cuma ada 2 kali sehari jam 10 dan 11 siang. Pokoknya paling lambat jam 11 siang mobil sudah berangkat ke Denge. Otocolt disini adalah mobil truk bak kayu yang sudah dimodifikasi dengan dipasangkan balok- balok kayu melintang sebagai tempat duduk. Aku segera beranjak naik,setelah  melemparkan kerilku di bagian depan bak mobil. 


Tak lama kemudian mobilpun sudah penuh sesak. Tak cuma dengan orang, akupun harus berbagi tempat dengan barang-barang belanjaan penduduk lokal termasuk dengan ayam-ayam!! Keadaan semakin menyiksa karena sepanjang perjalanan sopir memutar lagu dengan volume yang sangat-sangat memekakkan telinga. Iya kalau lagu-lagu yang diputar adalah lagu-lagu Top 40 mungkin aku akan sedikit terhibur. Tapi ini, lagu yang diputar adalah lagu-lagu dangdut gaje yang sangat merusak mood! Oh tidaakkk!!! Pemandangan indah sepanjang kiri kanan jalan seakan tidak ada artinya bagiku.  Benar-benar between heaven and hell!. Belum lagi pantat yang terasa ngilu karena harus duduk di bangku kayu yang super keras selama hampir 5 jam!



Jam 3 sore mobil sampai di Denge. Aku adalah penumpang terakhir di mobil ini. Sopir menurunkan aku tepat di depan rumah pak Blasius Monta, orang asli Wae Rebo yang menjadi guru SD di Denge. Pak Blasius menyambutku dengan ramah. Aku memutuskan untuk langsung trekking ke Wae Rebo sore itu mumpung cuaca cerah. Pak Blasius segera mencarikan aku seorang guide dari warga local. Jam setengah 4 sore kamipun mulai pendakian menuju Wae Rebo.



Satu jam pertama jalur lumayan datar. Setelah menyebrangi dua sungai kami istirahat sebentar. Jalur mulai menanjak dan licin tapi masih bisa dikompromi. Apalagi buatku yang sudah lumayan sering naik gunung jadi tak begitu masalah. Jam 7 malam kami sampai di Wae Rebo. Ah… senangnya, finally I’m here!! Perjalanan menyiksa bagai neraka  di otocolt selama 5 jam ditambah trekking selama 3 jam lebih seakan sirna sudah. Terimakasih Tuhan telah mengabulkan satu lagi mimpiku!







Info Tambahan:
Kalau tidak ingin naik otocolt dari Ruteng bisa naik ojek dengan ongkos 200 ribu sekali  jalan atau Sewa motor dengan harga 90 ribu/hari di hotel Rima.
Biaya menginap di Wae Rebo Rp.325.000/malam termasuk makan 3x, Kalau tidak menginap bayar Rp.200.000 dapat 1x makan ( per 1 Januari 2015 )
Guide Rp.200.000
Jika beramai-ramai bisa sewa mobil  dengan harga mulai 600 ribu perhari
Hubungi Om Sony ( manajer Hotel Rima Ruteng ) Hp. 081339419696
Otocolt dari Denge ke Ruteng cuma ada jam 3-4 pagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar